Monday, December 6, 2010

Kami Ingin Kembali Ke Sana, Namun Selagi Di Sini Kami Ingin Mengabdi

Hingga malam keempat setelah kepulangan saya dari Jepang, ingatan-ingatan tentang waktu-waktu yang saya luangkan di sana masih sangat kuat. Kenangan-kenangan tentang kehangatan berkumpul dengan host fam, seminar-seminar inspiratif bersama para profesor, gurauan-gurauan dengan teman-teman dari Korea, dan jalan-jalan bersama mahasiswa pemandu kami dari Indonesia serta teman-teman Jepang masih saja berkelebatan di kepala saya, termasuk malam ini (03/12), saat saya menghadiri kongres mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UNDIP. Rasa-rasanya, hati dan pikiran saya masih tertinggal di Jepang, sementara raga saya berada di sini, di kampus FIB UNDIP, Semarang, Indonesia.

Selama acara, kadang saya masih sempat melihat foto-foto di Jepang yang saya simpan di handphone saya. Bahkan Foto adik saya Keina yang lucu dan imut pun saya perlihatkan ke teman yang duduk di samping saya. Namun selama acara pula, perlahan namun pasti saya merasa kembali ke habitat asli saya: dunia organisasi mahasiswa yang selalu berusaha menciptakan perubahan ke arah yang lebih baik di lingkungan kampus. Pembahasan laporan pertanggungjawaban (LPJ) beberapa lembaga kemahasiswaaan pun semakin menyadarkan saya bahwa masih ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan mahasiswa dan saya merasa berkewajiban untuk ikut serta di dalamnya.

Saat pembahasan LPJ tersebut, sempat saya berpikir tentang keinginan saya untuk kembali ke Jepang. Ya, saya dan tiga teman saya memang sama-sama memiliki keinginan untuk kembali ke sana,ke negara yang telah mencuri hati kami. Namun saya berpikir, mungkin di sini, di kampus ini dan di negeri ini, ada yang lebih membutuhkan kami dan menginginkan kami untuk tetap di sini. Saya sendiri merasa bahwa mungkin ada lebih banyak hal yang bisa saya kerjakan di sini untuk perubahan yang lebih baik. Agak lama saya berpikir tentang hal ini hingga akhirnya saya kirimkan pesan singkat ke tiga teman saya tersebut yang isinya,"Perhaps we wanna come back 'there', but perhaps there are people who love&need us, & want us to stay HERE."

Ah, mungkin agak berlebihan jika saya merasa ada yang mencintai dan membutuhkan kami serta ingin kami tetap di sini. Namun bagi saya pribadi, tugas di depan masih banyak, dari hal-hal kecil misal kaderisasi mahasiswa baru hingga isu besar semacam kemiskinan dan korupsi. Saya benar-benar merasa lebih bisa memberikan sumbangsih nyata bila saya di sini. Akhirnya, di akhir acara, saya mantapkan diri saya bahwa benar saya ingin kembali ke Jepang, entah itu untuk melanjutkan studi atau sekedar berkunjung, namun saat ini selagi saya masih di sini, di kampus FIB UNDIP, di Indonesia, saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk selalu menciptakan perubahan ke arah yang lebih baik. Singkatnya, kami ingin kembali ke sana, namun selagi di sini kami ingin berbakti.







Thursday, December 2, 2010

Alasan Kenapa KKP untuk FIB UNDIP Harus Dipertahankan



Salah satu tema seminar internasional yang saya ikuti di Nagoya University, Jepang adalah Youth Career Formation in Japan. Presentasi dengan tema tersebut disampaikan oleh Prof. Terada, mantan dekan Fakultas Pendidikan dan Pengembangan Manusia, yang resah dengan kondisi pendidikan di Jepang yang lebih berorientasi pada teori dan pencapaian akademik sementara kurang menitikberatkan pada penyiapan peserta didik untuk dunia kerja. Walhasil, banyak peserta didik yang tidak langsung dapat diserap oleh dunia kerja dan harus menunggu lama sebelum akhirnya mendapatkan pekerjaan karena perusahaan sering memberikan spesifikasi persyaratan yang tidak dapat dipenuhi lulusan sekolah/ perguruan tinggi.

Untuk mengatasi hal ini, Prof. Terada memberikan solusi agar sekolah-sekolah dan perguruan-perguruan tinggi di Jepang memberikan porsi lebih pada career education agar para siswa mendapatkan pemahaman mendalam dan mempersiapkan diri untuk dunia kerja, misalnya dengan program magang. Selain itu, dibutuhkan dukungan dari berbagai pihak terutama perusahaan-perusahaan swasta agar memberikan kesempatan pada siswa untuk magang di intansi mereka. Saat Prof. Terada menyampaikan presentasi tentang topik ini, saya langsung teringat pertemuan mahasiswa Sastra Inggris, Sastra Indonesia, dan Ilmu Perpustakaan UNDIP dengan Pembantu Dekan 1 beberapa hari sebelum saya berangkat ke Jepang, terutama karena hal yang sama juga terjadi di Indonesia, di mana banyak sarjana yang menganggur karena tidak terserap oleh penyedia lapangan pekerjaan.

Saat itu mahasiswa ramai-ramai menolak untuk diikutsertakan dalam program KKN sebagai ganti dari magang/ KKP dan lebih memilih untuk mengikuti KKP daripada KKN. Alasannya macam-macam: mulai dari pertimbangan bahwa KKP lebih akomodatif untuk mengaplikasikan ilmu mereka hingga konsekuesi-konsekuensi negatif bila mahasiswa yang sudah diterima di beberapa instansi membatalkan secara sepihak rencana magang mereka, tanpa menafikan kenyataan bahwa KKN juga memiliki banyak manfaat. Gayung pun bersambut. Rektorat memberikan kesempatan kepada mahasiswa dari tiga jurusan di atas untuk ikut KKP, sedangkan mahasiswa angkatan di bawah mereka wajib mengikuti KKN.

Bila kita melihat keputusan rekotrat ini dari kacamata poin-poin yang disampaikan Prof. Terada, akan terasa bahwa keputusan penghapusan KKP dan menggantikannya dengan KKN adalah sebuah langkah mundur. Lebih lagi bila mengingat pernyataan yang disampaikan oleh Ketua Jurusan Sastra Inggris tahun lalu yang menyatakan bahwa KKP adalah sebuah terobosan dan langkah maju jurusan agar mahasiswa lebih dapat mengaktualisasikan diri serta mempersiapkan diri ke dunia kerja. Ibarat sudah maju (selama 5 tahun,karena KKP pertama kali dilaksanakan 5 tahun yang lalu) dan sekarang harus mundur lagi dengan kembali KKN.

Saya di sini sepenuhnya setuju bahwa KKN memiliki banyak manfaat baik bagi mahasiswa maupun masyarakat. Poin saya adalah, tiap tahun ada ratusan ribu lulusan perguruan tinggi yang menganggur karena tidak terserap oleh penyedia lapangan kerja, dan bila dikaitkan dengan poin Prof. Terada, bukankah sebaiknya kita mempertahankan KKP agar mahasiswa dapat mempersiapkan diri ke dunia kerja dan dengan begitu dapat segera terserap di dunia kerja sehingga tidak berbagi nasib dengan ratusan ribu sarjana yang menganggur? Bukankah memalukan jika melihat banyak alumni kita yang menganggur karena tidak laku di dunia kerja?

TEN MEMORABLE DAYS IN JAPAN: ENORMOUSLY FUN AND DEEPLY INSPIRING!




My high regard to Japan started since I was five-year-old, when I was fond of Japanese childhood heroes such as Kamen Raider and Ultraman. However, never have I thought of experiencing the very experience of Japanese life until one day when I was listening to a Japanese song, a thought came to my mind. That thought said, “I must go to Japan”. Few months later, that thought came true, and my admiration to Japan grew even higher.

We, four Indonesian students and three lecturers came to Japan through an uneasy way. We had to go through such challenges as flight delay and cancelling. At first, we missed the flight to Hongkong and then Nagoya since the plane that took us to Jakarta was delayed. Then, we had to take another route to Denpasar then Nagoya. Unfortunately, our flight from Denpasar to Nagoya was cancelled so that we were transferred to Osaka. However, we proved that behind every cloud there’s a silver lining. Because of that unexpected change, we could find new experiences such as seeing Kansai International Airport and taking the popular Shinkansen.

The joyful experience that welcomed us in Japan was also added by the hospitality of an officer of Kansai. She kindly helped us deal with the problem with our luggage that in fact went to Narita. She demonstrated impressive hospitality and astonishing wok ethics, which helped us forget our problem for a little while. Then, the trip to Nagoya with Shinkansen also kept the thought about our luggage away from us.

As for myself, the hospitality of the Japanese did not stop there. Just few hours after we arrived at Nagoya University, my host family picked me up. I spent the night mostly playing video games with my brothers Ryosuke and Haruto. The following day, we went to a park where we spent family time together. During the day, rarely did my sister Keina released my hand. She always kept me busy with running and playing hide and seek with Ryosuke, Haruto, and a neighbor’s son named Kesukei. In the evening, we went to a sushi restaurant to had dinner, during which I had an opportunity to taste various kinds of sushi. Overall, living with the Yamamura family was very touching for me mainly because they accepted as a part of their family. Thus, parting with them was very hard for me and I did wish the students could have stayed longer with their host families.

Over the next few days, we had (serious) session which was full of seminars. However, for me, the seminars were very inspiring and thought provoking. Each topic that was brought by the professors allowed me to have a broader horizon about youth, education, and culture in Indonesia, Korea, and Japan. Started by the seminar by Professor Singgih about the international school pilot project which raised many questions from the Indonesian students that mainly centered on the issue of equality in terms of quality of education in Indonesia, the program continued to the second seminar which was delivered by Professor Terada about career formation of Japanese youth. I found the second seminar was also very interesting since the issue that Prof. Terada brought was also faced by Indonesian young generation.

Meanwhile, the seminars by Professor Na and Professor Han also gave me deep understanding about Korean youth and education. Professor Na’s presentation gave a very clear view about the education in Korea while that by Professor Han gave me a deep insight about Korean youth life. To my surprise, Korean youth and Indonesian youth have many commonalities, not only in culture but also in their roles in standing in the frontline of social and political change in their respective country. I also found other commonalties Indonesian youth have with our East Asia friends during Professor Takai’s presentation which discussed the Japanese communication behavior. Over all, I enjoyed all the seminars and found it very useful in expanding my horizon and broadening my knowledge.

In addition to the home stay and seminars, we all also had fun time visiting some places in the city. Accompanied by our ‘guide’, we went to such places as Nagoya Castle, Port of Nagoya, and Sakae, where we could see beautiful sceneries and, of course, took a lot of pictures. We also spent some time shopping to buy souvenirs for our family and friends back home.

As I gained enormous learning and invaluable experience from the program, I hope this program will be held annually so that more students can have the same or even better experience. The continuation of the program in the coming years will also lead to the better cooperation among the participating universities. Lastly, I believe the learning I gained from this seminar will help me pursue my future career, go far in the future, and contribute to the betterment of Indonesian society.







More pictures are availabe at:
http://www.facebook.com/album.php?aid=247840&id=694442683

Friday, November 12, 2010

Jadwal Sumber Kencono Semarangan



Jadwal Bus Sumber Kencono Surabaya-Madiun-Solo-Semarang adalah sebagai berikut:
Dari Terminal Bungurasih Surabaya:
7181 05.38
7614 06:40
7597 07:30
7182 09:00
7282 10:30
7357 11:30
7183 12:25
7398 13:30
7184 15:00
7399 15:25
7434 16:25
7185 17:50
7435 18:35
7600 19:40

Dari Terminal Tirtonadi Solo (menuju Semarang):
7394 13.30
7397 14.30
7182 15.30
7282 17.30
7357 18.30
7183 19.15
7398/7598 20.00
7184 21.30
7399 22.00
7434 23.15
7185 23.10
7135 01.10
7600 02.30

Dari Terminal Terboyo Semarang:
7181 17.00
7394 (dulu 7614) 18.10
7597 (rencana mo diganti 7400) 19.10
7182 20.45
7282 21.15
7357 22.15
7183 23.05
7398 00.10
7184 01.00
7399 01.45
7434 02.45
7185 03.40
7435 04.15
7600 04.50

Sumber:
1) http://sumberkenconomania.wordpress.com/
2) Group Facebook Sumber Kencono Maniac

Monday, November 1, 2010

English Department Wall of Fame

Few days ago, I attended my friends' graduation and it was really inspiring. During that moment, I could see pride and happiness radiated from their faces as they walked in the hall. I could also see the best graduates of each department walk so proudly to the front and their friends gave big applause to them. Indeed, it was really inspiring to see those great achievers. Sadly, it was only I and those who attended the event who recognized and were inspired by such achievement. I began wondering, is there any way to extend the recognition and appreciation to their achievement as well as to spread this kind of inspiration (at least to students at my department, who mostly did not attend the graduation)?


Practically thinking, I began formulating the idea of establishing a wall of fame inside our department office. As noted by wikipedia (I know it's not a good source to refer, but it is only to give you an idea about what it is), "A wall of fame is a wall dedicated to the honouring of people who distinguished themselves in some way. Walls of fame usually display an image of the person, e.g., a photograph or plaque, along with a description of their achievements and merits." The purpose of this idea is basically two things:1) recognition as well as appreciation of their hard work, 2) motivation to their juniors so as to work harder. My imagination began wondering what could happen if we (our department) had such a wall on which we will put the picture or the name of our best graduates (and or those who achieved cumlaude on their graduation) in our department office. Students who come in to the office will see the wall and say to their friends,"That is Mas Achmat, the best graduate of April 2010, 3. 67. That is Mbak Izza, the best graduate of October 2010, 3. 65*." Their friends, then, will say,"I will be the next, 3.87." Those inspiring pictures will spark motivation. Enormous motivation.


Graduation of October 2010 saw (only) 4 students of English Department achieved cumlaude. I do hope "the English Department Wall of Fame" will increase the number.


* Names and grades are real. Sorry for Mas Achmat and Izza. ;)

Thursday, October 7, 2010

Young Leaders for Indonesia (YLI) 2011 Application (More Detailed Info)


As you may have known from various sources of information, YLI Kampus is a professional development program for high performing university students aimed at developing their potentials by introducing leadership and proactive problem solving skills through a fieldwork and forum approach.


The applicants shall have:

- outstanding academic credentials (cumulative GPA should be greater than 3.30/4.00)

- outstanding leadership skills as evidenced by a significant contribution to extracurricular activities.

- excellent interpersonal skills

- fluency in English (for day-to-day oral and written communication). No TOEFL score is needed.

- high energy and a clear passion for having impact on a national scale for Indonesia.

Please email your CV and essay of your leadership experience (max. 500 words), both are in English to YLI_VTR@mckinsey.com with subject YLI Kampus Wave 3-Your Name before November 14, 2010. Shortlisted applicants will receive invitation to join the program. For application, please download CV template available at http://www.mckinsey.com/locations/southeastasia/applicationprocess/



Please find out more info about YLI program in Facebook by searching for "Young Leaders for Indonesia". You can also find the program socialization pack by visiting http://www.facebook.com/photo_search.php?oid=131220059378&view=all#!/photo_search.php?oid=114801935213942&view=all

Thursday, September 16, 2010

English is Important, But Unfortunately...

With the notion that English is important I think every single student of English Department UNDIP agrees. I presume that they all realize that they need ability in English so as to succeed in various opportunities of advancement such as job and scholarship application, exchange student selection, etc. However, their willingness to improve their profificeny in that important language varies greatly. Some fully realize that proficiency does not come instantly and therefore work hard to improve it, while some others just seem do not care at all.

I have seen some students working hard improving their English through a variety of creative means such as practising it everyday with their peers, listening to an English broadcasting channel on a regular basis, and reading English newspapers available at the department office. They clearly show great spirit and enthusiasm. They realize that proficiency comes through practise; no matter how many vocabularies you know, how good your grammar skill is and how high your TOEFL score is, if you don't practise your English, you will never reach your highest potential.

During my leadership in EDSA last year, my committee initiated a program called English Day, in which every student and lecturer was encouraged to speak English. Through such a program, we wished to create an environment that would accomadate those who wished to practise their English and foster their English improvement. Sadly, few participated in the program. The majority of English students kept speaking in Bahasa Indonesia and Javanese language. After we resigned, the new committee continued the program and looked for a creative way to make it more succesful. However, again, only few spoke English during the English day.

Of course, neither I nor the committee of EDSA have the authority to force students to speak English. Besides, we certainly also cannot establish a system like that at my past boarding school, in which speaking in English (and Arabic) is a must and those who get caught speaking Bahasa Indonesia or regional language will be punished by the managers of the student body. At our campus, the will to practise English originates to one's will to improve it. There is no obligation, there will be neither reward nor punishment.

In an environment where many students seem unwilling to practise their English, I still believe that there are many others who are keen in improving their English. I often met some students who started conversation in English with me. Some others always texted me in English. I really appreciated their effort and it shows us that amongts those rocks, there are still some beautiful pearls and diamonds.

Now, as we realize that English is important, that proficiency in it can be reached through practice, and that our environment at English Department is somewhat unsupporting, we should have strong perseverance and maintain our enthusiasm to strive for our English improvement. We can start from very simple ways such as using English when texting our friends and having a small talk in English with our peers and lecturers. I believe that such simple yet effective ways can help us better our English and help us go far in the future.


PS: Whenever possible, please use English when texting me or starting a small talk with me . ;)

Paper-Paper Kita Daripada Dibuang, Apa Tidak Sebaiknya Di......?

Pada suatu malam, saat saya selesai merampungkan paper Ethnic and Ethnicity saya, saya memikirkan satu hal. Tugas akhir mata kuliah Ethnic and Ethnicity adalah menulis sebuah paper dengan mengambil tema Ethnic Conlfict atau Pluralism and Democracy. Ada 40 lebih mahasiswa yang mengambil mata kuliah tersebut dan saya pun berpikir tentu ada 40 lebih ide-ide brilian mahasiswa tentang kedua tema tersebut.

Saat itu kami diminta dosen pengampu untuk mengirimkan softcopy paper kami ke email beliau. Saya tidak tahu, setelah beliau terima dan koreksi akan beliau apakan paper-paper tersebut. Tentu sayang jika paper-paper yang telah dikerjakan mahasiswa dengan susah payah tersebut dimasukkan recycle bin begitu saja. Mungkin akan lebih baik bila dijadikan sesuatu yang bermanfaat, mungkin dengan diupload dan dijadikan sebuah jurnal online.

Jurnal online adalah sistem informasi yang memungkinkan kita mengunggah dan mengunduh hasil pemikiran orang lain untuk dijadikan pemerkaya wawasan kita dan referensi penulisan karya ilmiah. Konsep ini sebenarnya sudah ada di internet. Saya sendiri juga sering mengunduh jurnal-jurnal online untuk bahan bacaan di waktu senggang. Nah, concern saya, daripada paper-paper Ethnic and Ethnicity tersebut dibuang begitu saja, apa tidak sebaiknya dijadikan jurnal online agar bisa bermanfaat bagi mereka yang tertarik dan mencari referensi tentang kedua tema di atas?

Ini tentu juga bisa diaplikasikan pada mata kuliah lainnya, misal Theory of Culture, Academic Writing, Creative Writing, dan lain sebagainya. Ambil contoh Academic Writing. Bila ada essay karya mahasiswa yang cukup qualified untuk diunggah, mahasiswa lain tentu bisa mendapatkan contoh essay yang bagus karya teman mereka sendiri sehingga dapat belajar untuk meningkatkan kualitas penulisan mereka. Contoh lain misal di Theory of Culture, saat ada mahasiswa yang menulis paper tentang pentingnya inventarisasi aset-aset budaya nasional dan daerah kemudian mengunggahnya di jurnal online, mahasiswa lain atau peneliti yang mencari referensi tentang hal tersebut tentu akan terbantu dengan adanya jurnal online ini. Hal ini tentu akan sangat bermanfaat bagi dunia keilmuan dan pendidikan.

Saya mendiskusikan ide ini dengan beberapa teman sekelas dan kami cukup optimis dengan pelaksanaan ide ini hingga datang suatu berita yang kurang mengenakkan. Saat itu, dosen pengampu mata kuliah Method of Culural Research berang bukan main. Sebabnya adalah banyak mahasiswa yang melakukan tindakan plagiarisem saat mengerjakan tugas mata kuliah yang menjadi prasyarat skripsi tersebut. Jumlahnya pun tidak main-main. Lebih dari tujuh lima persen,kata beliau. Bahkan ada mahasiswa yang mengunduh skripsi dari suatu blog lalu mengganti nama penulisnya dengan namanya sendiri. Benar-benar parah.

kekhawatiran yang saya dan teman-teman saya alami kemungkinan dengan mudah terjadi. Niat sebenarnya yang ingin menyediakan informasi untuk memudahkan pembelajaran dan penelitian dapat dengan mudah dipelintir oleh tindakan plagiarisme beberapa mahasiswa yang menginginkan cara instan untuk meraih apa yang mereka harapkan. Kami sempat mendiskusikan beberapa masalah teknis untuk mencegah plagiarisme namun tetap saja ada celah untuk kesana dan mahasiswa plagiat tidak bodoh, kenyataannya mereka sangat kreatif namun sayang di jalan yang salah.

Plagiarisme dan pembajakan seolah memang sudah begitu melekat pada bangsa ini, bahkan pada golongan yang di kalangan terpelajar sekalipun. Tindakan copy-paste dari internet seakan sudah menjadi strategi jitu untuk 'menulis'paper. Parahnya beberapa kadang meng-copy-paste secara mentah-mentah, tanpa mengedit terlebih dahulu. "Nek copy paste mbok sing kreatif sithik!" begitu kata dosen pengampu Method saya. Saya pun mengurungkan niat untuk mengolah paper-paper berisi ide-ide brilian mahasiswa tersebut menjadi jurnal online, namun tetap mencari sikap terbaik agar paper-paper tersebut tidak dibuang dan menjadi sia-sia begitu saja namun tetap meminimalisir kemungkinan terjadinya plagiarisme. Ada masukan?

Wednesday, June 30, 2010

Susah Mencari Mahasiswa Aktif dan Kritis di Jurusan Saya!

Siang ini tadi (Rabu 30 Juni 2010) saya sedikit mengobrol dengan seorang dosen di kantor jurusan. Obrolan kami awalnya tentang program kunjungan lima minggu ke Amerika, berlanjut milist jurusan, dan hingga akhirnya sampai pada topik yang membuat saya sedikit terkejut. Beliau saat itu mengatakan bahwa beberapa mahasiswa yang pernah mengikuti program ke AS semacam mengalami penurunan performa di kelas. Ternyata beliau juga membicarakan masalah ini dengan dosen lainnya, yang juga memiliki pendapat yang sama. Saya pun menjadi semakin terkejut.

Menurut beliau, penurunan performa ini menyangkut antusiasme kami di kelas-kelas yang kami ikuti dengan mereka. Beliau menjelaskan bahwa kami terkesan lebih pasif dan diam, tidak seperti dulu yang selalu aktif bertanya dan memberikan pendapat. Atmosfir kelas pun menjadi berubah; semangat untuk maju dalam dunia akademis menjadi sangat berkurang. Hal ini mengingatkan saya pada pernyataan beliau saat membatalkan sebuah kelas, "Lha mahasiswanya diajak aktif pada gak mau. Saya malas jadinya." Saya mafhum dengan pendapat beliau. Namun, secara umum tampaknya ada sesuatu yang belum mereka pahami, kata saya dalam hati saat itu.

Menanggapi hal ini, saya jelaskan bahwa penurunan performa tersebut memang disengaja. Ya disengaja. Sebenarnya, ingin rasanya kami selalu aktif dalam diskusi-diskusi dan presentasi-presentasi di kelas. Kami meyakini bahwa diskusi-diskusi yang interaktif di kelas tidak hanya memperdalam pemahaman kita namun juga memperluas wacana kita tentang mata kuliah yang diikuti. Namun, saat kami sering aktif bertanya dan memberikan pendapat, ada sekelumit hal yang menjadi pikiran kami.

Sering kami mendengar cerita-cerita tentang mahasiswa yang aktif di kelas, namun teman-temannya mencibirnya sambil berkata, "Ini lagi-ini lagi." Atau tentang mahasiswa yang sebenarnya ingin mengasah keterampilannya dalam berbahasa Inggris yang harus menghadapi komentar pedas seperti,"Sok-sokan banget sih? Tau yang bahasa Inggrisnya bagus." Rasa-rasanya kurang ada apresiasi dan dukungan terhadap mahasiswa yang ingin maju. Yang ada adalah cibiran-cibiran dan komentar-komentar yang menyakitkan. Kami berpikir, jangan-jangan di balik keaktifan kami, ada mahasiswa yang berlaku seperti itu tanpa sepengetahuan kami.

Selain itu, alasan kami diam adalah untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa lain untuk menyampaikan pendapat. Saya teringat pada status dosen yang mengobrol dengan saya yang menyinggung masalah kurang aktifnya mahasiswa di kelas. Saat itu, saya mengomentari,"Bapak apa gak bosen kalo yang ngomong itu-itu aja?" Beliau membalas,"Ya bosen sie. Lha yang aktif cm bs dihitung dengan jari." Agar dosen yang bersangkutan dan mahasiswa lain tidak bosan, kami akhirnya memang memilih diam, dengan harapan ada mahasiswa lain yang akhirnya menyampaikan pendapat. Beberapa mahasiswa memang kemudian menjadi aktif, namun kebanyakan tidak alias sama saja. Kami jadi sedikit sangsi dengan pilihan kami untuk diam. Apakah mereka peka dengan kami yang diam dan menahan diri untuk tidak bertanya? Saya tidak tahu. Apakah keputusan kami kontraprodukitf? Ya!

Rasa-rasanya, mahasiswa di jurusan saya memang belum terbiasa dengan atmosfir akademis di kelas dimana mahasiswa selalu aktif dan kritis sehingga proses KBM dapat berjalan dengan efektif dan produktif. Tengok saja, setiap kali ada presentasi, berapa orang yang bertanya atau menyampaikan pendapat? Kalaupun ada, paling ya itu-itu aja. Sejak saya masuk kuliah semester satu hingga sekarang duduk di semester enam kondisinya tidak berubah. Pertanyannya, mengapa bisa demikian?

Saya kadang merasa sedikit iri dengan atmosfir akademis yang ada di beberapa perguruan tinggi lain. Saat ada presentasi, mahasiswa selalu aktif dan presentasi pun menjadi sangat interaktif. Walhasil, pemahaman dan pengetahuan mahasiswa tentang materi yang disampaikan semakin bertambah. Sementara di jurusan saya, waduh...jangan tanya deh...Lha wong setiap kali ada yang mo presentasi ja, ada ja yang deketin saya trus bilang, "Mas, Mas, ntar jangan tanya ya." Saya pun mengakalinya dengan menuliskan beberapa pertanyaan lalu meminta mahasiswa yang kebetulan duduk di samping saya untuk menanyakannya, namun jarang ada yang mau. Secara umum aktivitas mahasiswa di kelas tidak jauh-jauh dari: masuk kelas, duduk, mendengarkan dosen berpidato/mahasiswa lain presentasi, kalo perlu nyatat ya nyatat, tanda tangan, selesai kelas keluar. Apakah pernah terlintas dalam pikiran mereka bahwa penjelasan dosen atau poin presentasi teman-teman mereka bisa saja salah? Kemudian kalo salah, apa benar kalo dibiarkan begitu saja tanpa dikoreksi? Atau mungkin ada penjelasan yang berbeda dengan apa yang mereka baca di buku lain ato di koran sehingga perlu diterangkan lebih lanjut? Sekali lagi, saya tidak tahu.

Pernyataan dosen tersebut membuat saya berpikir bahwa memang ada ekspektasi dari para dosen agar mahasiswa selalu aktif di kelas. Namun saya juga sadar bahwa ada hukum-hukum tidak tertulis dari para mahasiswa tentang bagiamana setiap anggota kelas harus bertindak dan berperilaku. Yang terjadi kemudian adalah ada semacam tarik ulur antara aspirasi pribadi untuk maju, hukum-hukum tidak tertulis dalam kehidupan sosial, dan ekspektasi dosen; dan saya (atau kami) harus bisa mencari titik keseimbangannya.

Memang susah kalo hidup di masyarakat yang kurang apresiatif terhadap orang-orang yang ingin maju. Dalam suatu forum yang saya ikuti, Anies Baswedan pernah menceritakan keluh kesah putra-putrinya, yang waktu di Amerika selalu mendapat support dari teman-teman dan lingkungan mereka, sementara di Indonesia kebalikannya. Saat itu beliau berkata pada mereka,"Nak, itulah Indonesia. Tapi kalian harus tetap maju." Yah, inilah Indonesia, ada orang ingin aktif dan maju, bukannya didukung namun malah disemati stigma-stigma negatif seperti pamer, sok-sokan, sombong, norak, dsb.

Kurang aktifnya dan kurang apresiatifnya mahasiswa di jurusan saya memang bukan barang baru. Hal ini pada akhirnya sangat tidak bagus untuk efektivitas dan produktivitas proses pembelajaran. Saya dan beberapa teman mahasiswa juga dosen pernah membahas masalah ini dan kami pun sependapat tentang titik keseimbangan antara aspirasi pribadi dan hukum tidak tertulis masyarakat. Namun, kondisi seperti ini tidak boleh dibiarkan terus terjadi. Dibutuhkan pembaharuan-pembaharuan untuk dapat membuat mahasiswa aktif dan kritis di kelas. Kalau tidak, 'kita yang sebenarnya bisa berlari, akan terus merangkak.' Kita, yang sebenarnya bisa terbang tinggi dengan mengembangkan segenap potensi kita, akan terus tertahan di bawah. Dan jika hal itu terus terjadi, akan sangat-sangat disayangkan dan saya tunggu anda untuk bersama-sama menyanyikan requiem untuk potensi-potensi kita tersebut.

Tuesday, June 29, 2010

Call of Duty: Indonesia Mengajar



Nama: Yayasan Indonesia Mengajar
Posisi : Pengajar Muda


Deskripsi Kerja:
Indonesia Mengajar memberi kesempatan kepada lulusan terbaik perguruan tinggi di Indonesia untuk menjadi Pengajar Muda di SD yang kekurangan guru di berbagai daerah di Indonesia selama 1 tahun.

Syarat-syarat:
* Lulusan S1 dari berbagai bidang studi dan jurusan
* Fresh graduate, maksimal dua tahun setelah lulus jenjang strata satu.
* Umur maksimal 25 tahun.
* IPK minimal 3,0 dalam skala 4,0 dari berbagai disiplin ilmu.
* Berprestasi baik di dalam maupun di luar kampus.
* Memiliki jiwa kepemimpinan, kepedulian sosial dan semangat pengabdian.
* Memiliki antusiasme dan passion dalam dunia pendidikan, khususnya untuk kegiatan belajar-mengajar.
* Memiliki semangat juang, kemampuan adaptasi yang tinggi, menyukai tantangan dan kemampuan problem solving.
* Memiliki hobi atau keterampilan non-akademis yang menarik dan bermanfaat.
* Sehat secara fisik dan mental
* Bersedia mengajar di daerah terpencil selama setahun

Jurusan:

Sarjana (S-1) semua bidang studi dan jurusan

Informasi Tambahan:
Jumlah posisi : 50 Pengajar Muda

Penempatan:
Kabupaten Bengkalis-Riau (10 orang)
Kabupaten Tulang Bawang-Lampung (10 orang)
Kabupaten Passer-Kalimantan Timur (10 orang)
Kabupaten Majene-Sulawesi Barat (10 orang)
Kabupaten Halmahera-Maluku Utara (10 orang)

Fasilitas:
Pelatihan bersertifikat, gaji, asuransi dan fasilitas lain yg memadai untuk menunjang tugas sebagai Pengajar Muda di daerah

Keterangan:
Daftarkan diri Anda sebagai calon Pengajar Muda melalui rekrutmen online di website Indonesia Mengajar, silahkan klik: www.indonesiamengajar.org

Masa pendaftaran
mulai 1 Maret - 31 Juli 2010.
Keterangan lebih lanjut, silahkan kunjungi: www.indonesiamengajar.org

Wednesday, May 5, 2010

PEMILIHAN DUTA WISATA SUKOWATI KABUPATEN SRAGEN 2010



Pemilihan Duta Wisata Sukowati kabupaten Sragen merupakan ajang tahunan yang menjadi event tersendiri bagi masyarakat Sragen. Dalam kegiatan ini nantinya akan memunculkan putra dan putri pilihan yang akan mewakili Sragen dalam mempromosikan berbagai macam keunggulan maupun potensi daerah yang dimiliki oleh kabupaten Sragen. Event yang ditujukan kepada para pemuda kabupaten sragen ini juga bermaksud untuk menarik dan menggugah kesadaran mereka dalam hal kecintaan mereka terhadap kebudayaan daerah dan produk unggulan daerah.

Untuk perhelatan tahun ini, pemilihan Duta Wisata Sukowati digelar bersamaan dengan rangkaian peringatan hari jadi tlatah Sukowati yang diselenggarakan pada tanggal 24-27 Mei 2010. Acara ini merupakan salah satu program unggulan dalam peringatan hari jadi kabupaten Sragen tahun ini dan diharapakan mampu menarik perhatian masyarakat Sragen.

Bagi putra dan putri masyarakat Sragen yang berminat untuk mengikuti event bergensi ini dapat mendaftarkan diri ke kantor Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga kabupaten Sragen. Pendaftaran peserta dimulai dari tanggal 12 April s.d. 12 Mei 2010. Untuk Grand Final Sendiri rencananya akan digelar pada hari Rabu, tanggal 26 Mei 2010 bertempat di galery batik Sukowati Sragen.

Persyaratan umum untuk mengikuti ajang ini tidaklah terlalu sulit seperti penduduk asli kabupaten Sragen, sehat jasmani dan rohani, pindidikan minimal SLTA/sederajat, umur minimal 17 tahun dan maksimal 25 tahun, belum menikah, mampu berkomunikasi dengan baik, menguasai potensi wisata dan daerah kab. Sragen, serta tinggi badan Pria minimal 165 cm dan 160 cm buat wanita.

Sedangkan untuk persyaratan khususnya meliputi pengisisan formulir pendaftaran, foto copy KTP/kartu Pelajar/mahasiswa, surat izin dari orang tua, surat rekomendasi dari sekolah (bila masih pelajar/mahasiswa), pas photo berwarna terbaru 4x6 2 (dua) lembar, photo close up terbaru 1 (satu) lembar, dan photo ukuran postcard terbaru 1 (satu) lembar.

Untuk informasi lebih lanjut silahkan hubungi kantor Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga yang berlamatkan di Jl. Raya Sukowati No. 15 B-C (komplek Gedung Kartini) Telp. 0271-7087446, 8822856, fax. 894986 dan website http://pariwisata.sragenkab.go.id. Buruan daftarkan diri anda sekarang juga, dan buktikan bahwa anada adalah putra putri pilihan masyarakat Sragen dalam memajukan kabupaten Sragen.

Postingan ini direpost dari: http://www.sragenkab.go.id/berita/berita.php?id=8171

Friday, April 9, 2010

PEMILIHAN DENOK DAN KENANG SEMARANG 2010

Ikutilah pemilihan Denok dan Kenang Semarang 2010 Grand Final diadakan di Kawasan Tugu Muda Semarang, 1 Mei 2010 Pukul 18.00 s/d Selesai

Memperebutkan Trophy Bergilir Walikota Semarang & Trophy Juara + Uang Pembinaan

Juara 1 @ Rp. 2.500.000,-

Juara 2 @ Rp. 2.000.000,-

Juara 3 @ Rp. 1.000.000,-

Pendaftaran Mulai 15 Maret 2010

Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Kota Semarang

Gd. Pandanaran Lt. 8 Jl. Pemuda No. 175 – Telp. (024) 70413199

Totok Shahak Modelling School

Jl. Mangga VI / 61 – Telp. (024) 8312427

Sanggar Kamala 73

Jl. Parang Kesit Raya 3, Tlogosari – Telp. (024) 6715749

Persyaratan Peserta

- Putra-putri usia 17 tahun s/d 25 tahun

- Tinggi Badan Putra 170 cm, Putri 160 cm

- Biaya Pendaftaran Rp. 75.000,- (Tujuh Puluh Lima Ribu Rupiah) mendapat T-Shirt

- Mendapat Ijin orang tua

- Mendapat Ijin dari sekolah

- Menyerahkan 1 lembar Foto Close Up berwarna Uk. Post Card

AUDISI

Minggu, 18 April 2010

DP Mall Semarang Jam 13.00 WIB

WAWANCARA

Minggu, 18 April 2010

DP Mall Semarang Jam 15.00 WIB

GRAND FINAL

1 Mei 2010 Pukul 18.30 WIB s/d selesai

Sabtu Kawasan Tugu Muda Semarang.

Friday, April 2, 2010

EMPAT PENDEKATAN DALAM MELIHAT ARTIFAK BUDAYA


Menurut Pak Jonathan Moore, seorang pengajar dari Amerika Serikat, ada empat pendekatan yang dapat digunakan dalam melihat suatu artifak:

  1. Fenomenologis (phenonemonoligacal):

Cara ini lebih menekankan fenomena-fenomena seputar artifak dan menjawab pertanyaan 5W 1H (what, where, when, why, who dan how).

2. Ideologis (Ideological)

Cara ini melihat ideologi/ pesan/ gagasan yang disampaikan dalam artifak

  1. Moral (Ethical)

Cara ini memberikan penilaian tentang baik-buruk dan benar-salahnya sebuah artifak

  1. Selebratoris (Celebratory)

Cara ini melihat adanya kesenangan atau sensasi yang ditimbulkan saat seseorang menggunakan atau berhubungan dengan sebuah artifak

Contoh:

Dalam melihat majalah Playboy, yang sering dianggap sebagai artifak kebudayaan Barat khususnya Amerika Serikat, kita dapat menggunakan keempat pendekatan tersebut dengan cara berikut:

  1. Fenomenologis:

Di sini kita dapat melihat fenomena-fenomena seputar sejarah perkembangan Playboy, isi majalah, pangsa pasar, dan tingkat pembelian.

  1. Ideolologis (Ideological):

Melalui pendekatan ini kita dapat melihat ’pesan-pesan’ yang ingin disampaikan sender dalam hal ini produsen atau redaktur Playboy kepada receiver atau konsumen, misalnya—seperti yang sering dipersepsikan banyak pihak: nilai-nilai hedonisme, seksualitas, dsb.

  1. Moral (Ethical):

Dalam pendekatan ini terjadi penilaian baik-buruk atau benar-salahnya Playboy. Yang perlu diingat adalah kita harus tahu penilaian ini dibuat dari sudut pandang mana karena pebedaan sudut pandang dapat menyebabkan perbedaan penilaian. Contoh: beberapa kalangan akan menilai kevulgaran Playboy dalam menampilkan foto-foto modelnya sebagai sesuatu yang buruk yang ’membahayakan moralitas bangsa’ sementara di sisi lain ada yang menilai hal ini biasa saja dengan alasan sebagai sebuah bentuk kebebasan berekspresi.

  1. Selebratoris (Celebratory)

Di sini kita melihat adanya sensasi yang timbul saat seseorang membaca Playboy. Pendekatan ini sering kali diidentikkan dengan loyalitas. Misalnya ada orang yang lebih memilih untuk membeli Playboy daripada majalah sejenis yang harganya jauh lebih murah karena ada kepuasan tersendiri saat dia membeli Playboy.

ITALIAN VALUES vs AMERICAN VALUES IN “OUR ITALIAN HUSBAND”


By: Pratama Yoga Nugroho*

In analyzing a movie to find certain facts about certain entities, one has to be very careful in determining whether some facts have correlation with the given entities or even do not have anything to do at all with them. Specifically speaking, in differing American values from Italian values based on the movie ‘Our Italian Husband”, we have to recognize first what American and Italian values are. If we do so by analyzing the acts of certain characters in the movie, then we have to be careful in differentiate whether a character performs an action due to his or her personal trait as an individual or due to his or her culture as a part of a cultural group. This way will enable us to avoid hasty generalization, one thing that we really have to avoid in perceiving people from different culture.

However, if we are allowed to draw a conclusion about what people of certain culture do or how they do something based on what certain characters in the movie do in the belief that the characters in the movie represent people of certain culture in general, then that is what this paper going to do. Here we will analyze Italian values based on what character Maria does and American values from what character Charlene does then we will compare the two of them to find the differences.

Throughout the movie, the writer finds two major differences between Maria, representing Italian women, and Charlene, representing American women. These two major differences that really differentiate them one another are: attitude toward the members of the family and loyalty.

As the movie begins, we witness that Maria has remarkable dedication to her family. This is shown by her hard effort to earn money by making and selling shoes. She also demonstrates lovely, caring attitudes toward her children. In the other hand, Charlene is more of a spoiled woman that reluctantly works to help Vincenzo. Her attitude toward her daughter, Bibi, is not that of Maria. Often times we see her shout at Bibi, something that Maria never does to her children even in a very harsh situation.

The other difference is their loyalty. In the beginning of the movie, we see that Don Pepino tries to seduce Maria and even proposes to marry her. He seems to try to get her by all means such as isolating Maria from contact with Vincenzo by taking away all Vincenzo’s letters to Maria, promising to cancel all Maria’s debt to him, and even putting a wedding ring to Maria’s wedding finger. However, Maria resists all those forms of seduction and prefers to be loyal to Vincenzo by rejecting Don Peipno’s offers, throwing away the ring to the sea, and keeping on saying, “I have a husband.”

In the other hand, Charlene shows a different attitude. In the first parts of the movie, she seems to be possessive of Vincenzo. However, in the last parts of the movie, we see that she increasingly gets closer to Raul/ Ralph. Then there are two scenes that really prove Charlene’s closeness with Raul. First is when Maria is making a call, we see that Charlene and Raul kiss one another. The second one is when both of them together. Considering the fact that the movie does not tell us Charlene’s divorce with Vincenzo, it is clear that Charlene has performed an act of cheating while she is still Vincenzo’s wife. Thus, it is clear that Charlene’s loyalty to her husband, Vincenzo, is not as strong as Maria’s.

*: Pratama Yoga Nugroho, a student of English Department, Faculty of Humanities, Diponegoro University, Semarang

PERKEMBANGAN SASTRA ASSALAAM TAHUN 1999-2006



Saat kita berbicara tentang perkembangan sastra di Assalaam*, kita akan berbicara tentang seubuah perkembangan evolutif yang lebih cenderung bersifat seperti mode. Perkembangan ini menyangkut animo santri terhadap dunia sastra termasuk di dalamnya minat untuk membaca dan menghasilkan karya sastra. Animo ini selalu berubah hampir tiap tahunnya dan menyematkan kesan tersendiri pada tahun-tahun tersebut.

Perkembangan sastra antara tahun 1999 dan 2006 menunjukkan pasang surut yang mengesankan, menyedihkan, dan bahkan mengejutkan banyak pihak. Semuanya dimulai pada tahun. Tahun itu adalah maraknya cerpen-cerpen Islami bertemakan epos dan bersetting di daerah-daerah konflik yang melibatkan umat Islam. Buku-buku epik karya Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, dan Izzatul Jannah ramai membanjiri Assalaam. Saat itu antologi cerpen seperti ‘Hingga Batu Bicara’ dan ‘Manusia-Manusia Langit’ sudah sangat familiar bagi santri. Pada tahun ini setiap kali diadakan perlombaan cerpen, mayoritas naskah yang masuk adalah cerpen epik yang bertemakan jihad dalam bentuk perjuangan fisik dengan setting di Maluku, Chechnya, Kosovo, Bosnia, dan Andalusia.

Hingga dua tahun berikutnya, epik Islami masih merupakan style yang dominan di Assalaam. Bahkan pada masa ini sempat didatangkan Galang Lutfiyanto dan Asma Nadia untuk mengisi workshop sastra di lantai dua kantor Assalaam.

Pada tahun ajaran 2003/ 2004, ada semacam usaha dari beberapa santru untuk menggunakan sastra sebagai sarana penyampaian empati dan kritik sosial. Di periode yang sama, ada juga usaha untuk mengalihkan kiblat sastra Assalaam dari style epik Islami ke style yang lebih ‘berat, netral, dan varatif.’ Hal ini ditandai dengan terbtnya dua cerpen tentang pendidikan di majalah Karnisa edisi 31.

Cerpen yang masing-masing berjudul ‘Joko’ dan ‘G U Gu R U Ru’ tersebut merupakan refleksi dari kepedulian santri akan fenomena sosial tentang pendidikan. Kedua cerpen tersebut juga membuang jauh-jauh tema cinta yang sebelumnya selalu menghiasi cerpen-cerpen di Karnisa. Singkatnya, kedua cerpen tersebut lebih merupakan refleksi social awareness daripada ‘promosi pengalaman cinta.’

Tahun ajaran selanjutnya , 2003/ 2004, usaha pemindahan kiblat sastra Assalaam benar-benar sangat intens. Hal ini ditandai dengan lebih didengungkannya nama sastrawan-sastrawan seperti Seno Gumira Ajidarma dan Danarto daripada Helvy Tiana Rosa dan Asma Nadia. Cerpen-cerpen mereka yang cenderung lebih ‘berat dan sekuler’ lebih banyak diekspos di tengah-tengah santri. Di tahun ini, juga sempat muncul rencana mendatangkan salah satu sastrawan besar Indonesia, Afrizal Malna, namun sayang rencana ini gagal direalisasikan.

Aroma sastra di tahun ini juga cenderung bersifat progresif dan radikal. Satu hal yang cukup fenomenal di tahun ini adalah dibredelnya cerpen ‘Pada Sebuah Malam di Kantor Guru Putra’ dari majalah Karnisa edisi 33. Cerpen yang sebelumnya diharapkan mampu melanjutkan proses pemindahan kiblat sastra di Assalaam ini divonis ‘terlarang’ oelh asatidz. Pembredelan tersebut merupakan tamparan keras bagi dunia kesusasteraan Assalaam dan mengecewakan banyak pihak tentunya.

Selanjutnya, tahun ajaran 2004/2005, dibentuk Forum Lingkar Pena Assalaam yang berafilisi pada Forum Lingkar Pena Solo. Sayang, sepak terjang forum ini kurang begitu terasa sehingga pembentukannya terkesan seperti hanya sebuah formalitas.

Di tahun ajaran 2005/2006, terjadi fenomena yang cukup mengejutkan. Novel-novel teen literature (teen lit). Novel-novel teen lit sangat marak di kehidupan santri. Karya sastra bacaan santri tiap harinya tidak jauh-jauh dari novel-novel semacam Friendster Freaks. Ironisnya, style ‘berat, netral, dan variatif’ pun mulai hilang. Dengung nama Seno Gumira, Danarto, dan Afrizal Malna mulai jarang terdengar bahkan hilang sama sekali. Cerpen-cerpen yang mengambil tema sosial dengan aliran semacam realsime dan supernaturalisme sudah mulai jarang ditemukan.
Tidak bisa dipungkiri memang bahwa perkembangan sastra di Assalaam akan selalu menghadirkan style baru yang menggantikan style lama. Sastra sekarang memang sudah segmented, kata Ayos Purwoaji, salah satu pegiat dan pemerhati sastra di Assalaam, namun apapun yang terjadi, penulis berharap suatu saat nanti muncul sastrawan-sastrawan sekaliber Pramoedya Ananta Toer dan Taufik Ismail dari Assalaam. Anda sanggup menjadi sebesar mereka?


*: Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam, Pabelan, Kartaura, Sukoharjo,
Jawa Tengah.

URGENSI PENGAJARAN KEWARGANEGARAAN DI JENJANG PERGURUAN TINGGI

garuda-pancasila


Oleh: Pratama Yoga Nugroho*


Perang Dingin antara Blok Barat dan Blok Timur yang berlangsung sejak tahun 1945 secara tak terduga berakhir pada tahun 1991. Hal ini ditandai dengan beberapa momentum yang terjadi di negara-negara eks-komunis seperti digulingkannya diktator-diktator di Romania, Hungaria, dan Bulgaria, dirobohkannya Tembok Berlin, dan yang paling menentukan adalah runtuhnya Uni Soviet, negara sentral komunisme, pada tahun 1991.

Perang Dingin yang berlangsung selama beberapa dekade telah memanaskan suhu dunia dan menciptakan sebuah medan pertempuran politis, ideologis, kultural, dan militeristik. Namun setelah perang tersebut berakhir, dunia seolah mengalami kevakuman. Kemunculam Amerika Serikat sebagai satu-satunya negara adikuasa yang selama Perang Dingin yang mempromosikan liberalisme dan kapitalisme secara psikologis menempatkan negara tersebut sebagai satu-satunya yang dapat mengatur dunia tanpa perlawanan dari negara manapun. Pasca Perang Dingin, Amerika Serikat dan negara-negara sekutunya dengan gencar mengampanyekan demokrasi, penegakan HAM, dan sistem pasar bebas ke negara-negara eks-komunis dan Dunia Ketiga, sebagai ‘pengisi kevakuman’ pasca Perang Dingin.

Namun pada praktiknya, kampanye tersebut menimbulkan ketidakpuasan dari masyarakat internasional manakala Amerika Serikat memaksakan kehendaknya sendiri dan menerapkan standar ganda. Hal ini dapat dengan mudah kita lihat pada perlakuannya terhadap Israel, Irak, Iran, dan Korea Utara. Isu-isu globalisasi yang mencakup HAM, demokrasi, liberalisasi, perdamaian dunia, dan lingkungan hidup kerap kali digunakan untuk menyudutkan dan mendiskreditkan bangsa dan negara lain.

Dalam kehidupan sosial, politik, dan budaya, globalisasi yang didengungkan negara-negara maju secara langsung maupun tidak langsung banyak berpengaruh pada tatanan sosial, politik, dan budaya bangsa lain termasuk Indonesia dan jelas akan berpengaruh pada kondisi spiritual bangsa. Untuk Indonesia, saat ini bangsa dan negara setidaknya dihadapkan pada tiga permasalahan utama, antara lain: pertama, tantangan dan mainstream globalisasi; kedua, permasalahan-permasalahan internal seperti korupsi, destabilisasi, separatisme, disintegrasi, dan terorisme; dan ketiga, penjagaan agar ‘roh’ dan semangat reformasi tetap berjalan pada relnya (on the right track).

Permasalahan pertama dan kedua lebih didominasi oleh eksekutif dan legislatif sementara permasalahan ketiga hendaknya dijawab oleh setiap elemen masyarakat. Pemberdayaan elemen masyarakat, khususnya elemen civitas academica, dapat dilakukan dengan pengajaran civic education atau Pendidikan Kewarganegaraan. Pengajaran tersebut diharapkan dapat membangkitkan dan meningkatkan kesadaran siswa dan mahasiswa akan permasalahan-permasalahan yang dihadapi bangsa dan negara. Implementasi dari kesadaran tersebut dapat dilihat dari kontribusi dan partisipasi aktif mereka dalam usaha meningkatkan kualitas kehidupan sosial, politik, dan budaya bangsa dan negara secara keseluruhan.

Pengajaran Kewarganegaraan di Indonesia, dan di negara-negara Asia pada umumnya, lebih ditekankan pada aspek moral (karakter individu), kepentingan komunal, identitas nasional, dan perspektif internasional. Hal ini cukup berbeda dengan Pendidikan Kewarganegaraan di Amerika dan Australia yang lebih menekankan pada pentingnya hak dan tanggung jawab individu serta sistem dan proses demokrasi, HAM dan ekonomi pasar.

Pengajaran Pendidikan Kewarganegaraan di semua jenjang pendidikan di Indonesia adalah implementasi dari UU No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 9 ayat (2) yang menyatakan bahwa setiap jenis, jalur, dan jenjang pendidikan di Indonesia Pendidikan Pancasila, Pendidikan Agama, dan Pendidikan Kewarganegaraan.

Di tingkat Pendidikan Dasar hingga Menengah, substansi Pendidikan Kewarganegaraan digabungkan dengan Pendidikan Pancasila sehingga menjadi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn). Untuk Perguruan Tinggi Pendidikan Kewarganegaraan diajarkan sebagai MKPK (Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian).

Kompetensi yang diharapkan dari mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan antara lain:

a. agar mahasiswa mampu menjadi warga negara yang memiliki pandangan dan komitmen terhadap nilai-nilai demokrasi dan HAM.

b. agar mahasiswa mampu berpartisipasi dalam upaya mencegah dan menghentikan berbagai tindak kekerasan dengan cara cerdas dan damai.

c. agar mahasiswa memilik kepedulian dan mampu berpartisipasi dalam upaya menyelesaikan konflik di masyarakat dengan dilandasi nilai-nilai moral, agama, dan nilai-nilai universal.

d. agar mahasiwa mampu berpikir kritis dan objektif terhadap persoalan kenegaraan, HAM, dan demokrasi.

e. agar mahasiswa mampu memberikan kontribusi dan solusi terhadap berbagai persoalan kebijakan publik.

f. agar mahasiswa mampu meletakkan nilai-nilai dasar secara bijak (berkeadaban).

* Pratama Yoga Nugroho: mahasiswa Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya,

Universitas Diponegoro, Semarang.

Factors of Religiosity


By: Pratama Yoga Nugroho*

According to Emile Durkheim, a prominent expert on psychology, one can be religious or acts religiously due to two factors: internal and external factors. As a psychologist, he used psychological approach to define human religious behavior as he considered human psychology strongly related to religious behavior. Those two factors influence human growth and process of maturity as human grows from a baby to an old person.

Internal factors may include the needs for satisfaction of mental interests and philosophical deliberation. One may see religion not only disposes human transcendental, vertical relation with God but also plays important role as vision of life (weltanschauung). Since religion teaches peace, morality, and harmony with God, mankind, and the universe, one may demonstrate religious attitudes as implementation of desire for peaceful and delighting life.

Philosophical deliberation frequently involves in making a person religious. Thought about who created the sun, the moon, the earth, who keeps the universe running in its harmony, who determines life and death often comes to one’s mind. As one needs satisfying answer to those questions, such questions often lead human minds to deep deliberation over the existence of the most powerful entity called God. Human belief in the existence of God often demands worship and services as the responsibilities of ‘the created’ to the Creator.

External factors include parental, educational, and environmental factors. A person raised in a religious family will definitely differ from that which is raised in a non-religious or secular family. The values and norms, along with religiosity, set in a family would strongly influence one’s mind during his/her growth. Of course, this would affect his/her mindset so that he/she becomes religious or acts religiously.
Educational factor is also one of the most influential factors. We can see the influence of educational factor in Islamic boarding school which is often called pesantren. Since santri (students of pesantren) have to learn the academic matters of pesantren which dominantly consists of Islamic teachings including Islamic belief, laws, morality, in addition to the global knowledge, the principles and attitudes of santri would mostly be much different to those of non-pesantren students.

Besides religious education, pesantren also provides religious environment. All behaviors and attitudes of all elements of pesantren must be conducted in conformity with Islamic rules. This will certainly make santri accustomed to Islamic behavior and attitudes or in other words acting religiously. Here we can see that environment is strongly capable of making someone religious.
Considering all points above, we might want to contemplate on one’s or even our own religiosity. We might observe which factors have been dominant in making us a religious person. As religion is the most important way to implement our devotion to our Creator, it is important to know how religious we are, what will probably make us more religious, and then increase our religiosity.

* Pratama Yoga Nugroho: a student of English Department, Faculty of Letters, Diponegoro
University, Semarang.

Wong Ndeso Tetapi Tidak Ndeso, Wong Kota Tetapi Ndeso

tukul007casinoroyaleba1.jpg

Pernah mendengar lagu berjudul Wong Ndeso yang dipopulerkan oleh Thukul Arwana? Lagu tersebut liriknya sebagai berikut:

Puas? Puas?

Yo wis ben wong arep ngomong opo

Yo wis ben aku ini memang wong ndeso

Yo wis ben arep ngomong empat mata

Yo wis ben sing penting ora kalah karo wong kota

You wis ben wong arep ngomong opo

Puas? Puas?

Ndeso, ndeso, tapi ra popo rejekine kutho

Memang tampang aku katrok

Tapi rejekine kota

Tampang nggak jadi ukuran

Kadang wajah kota rejekine ndeso

Pancen aku wong ndeso

Soal cinta aku Romeo

Buanyak cewek sing trisno

Tapi ora tak pikiri tak sobek-sobek masa bodoh

Just kidding, just for laugh

You wis ben wong arep ngomong opo

Dasar wong ndeso, tapi rejekine kutho

No problem, never mind, never mind

Memang tampang aku katrok

Tapi rejekine kota

Tampang dadi ukuran

Kadang wajah kota rejekine ndeso

Pancen aku wong ndeso

Soal cinta aku Romeo

Buanyak cewek sing trisno

Tapi ra tak pikirin tak sobek-sobek masa bodoh

Yo wis ben wong arep ngomong opo

Yo wis ben aku ini memang wong ndeso

Yo wis ben arep ngomong empat mata

Yo wis ben sing penting ora kalah karo wong kota

2x

Beberapa bulan yang lalu lagu ini sempat booming terutama di daerah Jawa Tengah. penikmatnya mulai dari anak SD dan tukang becak hingga mahasiswa dan kalangan profesional, baik orang kota maupun wong ndeso. Yang menarik bagi saya dari lagu ini adalah kejujuran penyanyi, dalam hal ini Thukul Arwana, dalam mengakui dan meng-explore ke-ndeso-annya, atau kenyataan bahwa dia adalah wong ndeso, usahanya dalam meruntuhkan stereotip (breaking down the stereotype) terhadap wong ndeso, dan fenomena sosiolinguistik dalam masyarakat yang terrefleksikan dalam lirik lagunya.

Secara terminologi, kata wong ndeso berarti orang yang tinggal atau berasal dari desa. Dalam konteks interaksi sosial, makna kata “ndeso meluas menjadi sifat atau karakter yang kampungan, dalam artian jauh dari anggapan kepatutan umum (public decency) sebagai indah atau bagus. Kata “ndeso” mencakup segi fisik, ekonomi, fashion, dan ide. Sering kita dengar di masyarakat kalimat-kalimat seperti “Tampange kok ndeso banget to?”, ”Penampilane kok ndeso ngono?”, “Cara berpikire wong ndeso iki.” Tentu ini merupakan sebuah stigmasi pada orang-orang yang tinggal atau berasal dari desa.

Dalam lagu ini, Thukul juga menyebut kata kota sebagai kata adjektif sekaligus antonim kata ndeso. Di sini, kata “wong ndeso” dibenturkan dengan kata “wong kota”, dan kata “rejekine kota” dibenturkan dengan “rejekine ndeso” hingga kesan yang ada adalah wong kota adalah orang yang tidak kampungan atau memiliki sifat yang berkebalikan dari sifat wong ndeso, dan “rejekine kota” mengandung makna rezeki yang tidak kampungan, dalam artian melimpah baik dalam kualitas maupun kuantitas. Maka beruntunglah wong ndeso yang hidup di kota, karena mereka kecipratan pelabelan positif terhadap wong kota.

Menurut saya, pelabelan “ndeso” pada orang-orang yang kampungan secara fisik, ekonomi, fashion, dan ide, dan “kota” pada orang yang sebaliknya, berawal dari perbedaan persepsi terhadap orang desa dan orang kota secara umum. Orang kota, menurut paradigma orang desa, biasanya kaya, berpenampilan bagus, dan pintar. Begitu juga sebaliknya, orang kota biasanya menganggap orang desa kurang mampu secara ekonomi, berpenampilan seadanya, dan memiliki tingkat intelektualitas dan intelegensi yang rendah. Pada akhirnya persepsi dari paradigma ini digunakan publik secara luas baik di desa maupun di kota hingga meluaslah penggunaan label “ndeso” dan “kota.”

Sebenarnya kalau kita mau melihat lebih dalam, ada generalisasi pada pelabelan ini. Kenyataannya, tidak semua orang desa memiliki sifat seperti di atas. Kita tidak bisa memungkiri fakta bahwa banyak juga orang desa yang kaya, berpenampilan bagus, dan memiliki intelektualitas dan intelegensi yang tinggi. Begitu juga dengan orang kota, realitas di lapangan yang menyajikan wajah kemiskinan di pemukiman-pemukiman kumuh di kota-kota besar bahkan dapat menunjukkan sifat-sifat kampungan yang sebenarnya.

Lantas, pantaskah kita beranggapan bahwa orang desa itu pasti “ndeso” dan orang kota itu pasti “kota”? Yang harus kita lakukan selanjutnya adalah membedakan wong ndeso dan wong sing ndeso (orang desa dan orang yang ndeso atau kampungan) lalu, bisakah anda bayangkan sosok seorang wong ndeso yang tidak ndeso dan seorang wong kota yang ndeso?

Sebuah Catatan Kecil dari DIFEST EDSA


Hari ini tadi (Rabu 31 Maret 2010) EDSA ngadain DIFEST (Discussion for English Students) jam 4 sore sampai selesai. DIFEST sendiri merupakan program tiap semester yang mengundang elemen jurusan (dosen) dan mahasiswa untuk membahas hal-hal seputar akademis dan kemahasiswaan di jurusan Sastra Inggris UNDIP.

Ada satu hal yang menggelitik saya disini: tingkat partisipasi mahasiswa sangat-sangat jauh dari yang diharapkan. Saya tidak sedang mendiskreditkan panitia. Saya juga pernah menjadi bagian dari panitia DIFEST sewaktu saya masih menjabat ketua EDSA tahun lalu jadi saya yakin panita sudah melakukan yang terbaik untuk mempersiapkan acara ini, termasuk dalam aspek publikasi dalam bentuk--yang saya tahu--penyebaran pamflet, undangan ke komting angkatan, mouth-to-mouth-maupun sms. Minimnya tingkat partisipasi mahasiswa di sini di satu sisi saya rasa berkaitan erat dengan antusiasme mahasiswa pada dunia organisasi, meski saya akui banyak aktivis yang saat acara berlangsung sibuk dengan kegiatan mereka sendiri yang tidak kalah pentingnya. Mungkin sudah menjadi rahasia umum bahwa mahasiswa jurusan saya (di sini saya membuat genelarisasi) tidak begitu antusias meggeluti dunia tersebut. Awalnya saya mencoba untuk berpikir positif (husnud dzhon). Mungkin mereka sibuk dengan aktivitas lainnya, bekerja paruh waktu misalnya. Namun setelah saya amati, aktivitas mereka rata-rata tidak seperti apa yang diwanti-wanti oleh dosen sewaktu PMB, tidak jauh-jauh dari 3K: kos-kampus-kantin.

Pernah saya melakukan survey kecil-kecilan. Saya tanyakan kepada beberapa mahasiswa dengan prestasi akademis yang cukup bagus, dibuktikan dengan IP yang rata-rata di atas 3, 5 setiap semesternya: setelah lulus mau kerja dimana? Saya cukup terkejut melihat jawaban mereka: rata-rata dari mereka belum tahu kemana harus melangkah setelah wisuda. Kemudian saya tanyakan lagi:"Lah, lha kamu ngapain selama ini belajar sungguh-sungguh dan mengejar IP yang begitu tinggi?" Mendengar pertanyaan itu, beberapa dari mereka terdiam. Ada juga yang menjawab, "Ya...aku sekarang hidup untuk hari ini Mas. Belum kepikiran hari esok mo ngapain?" Perasaan saya campur aduk mendengar statemen seperti ini. Saya memilih diam, mencoba untuk menghormati mereka,, namun di benak saya muncul banyak pertanyaan: Apakah mereka tidak memiliki visi misi hidup yang jelas? Apakah mereka tahu berapa jumlah sarjana yang lulus dan menganggur setiap tahunnya? Apakah mereka tidak sadar bahwa kompetisi untuk mencari kerja (jika berpikir sebagai job-seeker) sangat kompetitif? Bahwa untuk bisa mendapatkan pekerjaan yang kita inginkan, prestasi akademis saja tidak cukup? bahwa kita juga butuh softskill, yang tidak kita dapatkan di kuliah? Apakah di perkuliahan kita mendapatkan materi kepemimpinan, manajemen rapat, manajemen konflik, teknik lobying, public speaking, dsb? Apakah hal-hal seperti itu tidak pernah terlintas pada benak mereka. Saya rasa wajar kalo kemudian atmosfir organisasi di fakultas saya baik di tingkat jurusan maupun fakultas tidak seperti di fakultas-fakultas lainnya.

Temuan dari hasil survey saya ini klop dengan informasi-informasi yang diberikan senior saya sewaktu saya masih semester awal, meski info tersebut hanya sebatas pada fakta bahwa mahasiswa di fakultas saya tidak antusias pada dunia organisasi dan 'tidak peka pada kondisi sekitar.' Untuk fakta kedua (tidak peka pada kondisi sekitar) mungkin bisa sedikit diperdebatkan. Sering saya mendengar mahasiswa dengan berapi-api mempertanyakan hal-hal seputar kampus yang menurut mereka perlu diperbaiki, sebut saja dana MAPIDA, KRS online, ruang kuliah, bla bla bla. Saya hargai kepekaan dan kepedulian mereka pada hal-hal tsb, tapi mereka kurang satu: action! Lihat saja, pada acara sambung rasa dengan dekanat, dimana mahasiswa bisa menyampaikan dan mengomunikasikan uneg-uneg kita pada segenap pihak di tingkat fakultas, berapa mahasiswa yang hadir? Pertanyaannya, apakah ngedumel di belakang saja sudah bisa memecahkan masalah-masalah yang mereka keluhkan tsb? Apakah pihak dekanat bisa tahu bahwa kita memiliki concern-concern demi kemajuan fakultas kita tercinta tanpa kita beri tahu? Kenyataannya mereka tidak memiliki indra keenam yang memungkinkan mereka bisa membaca pikiran kita. Kalo kita punya uneg-uneg, sampaikan saja. Saya rasa pihak dekanat juga sangat terbuka pada masukan-masukan yang disampaikan mahasiswa. Berkali-kali saya ngobrol dengan Pak Dekan dan para pembantunya tentang kondisi di fakultas kita dan mereka sangat menghargai masukan-masukan tersebut (terlepas dari realisasinya bagaimana).

Di tingkat jurusan sama saja. Begitu saya mendapat undangan DIFEST dalam kapasitas saya sebagai salah satu (mantan) komting 2006, saya langsung beri tahu teman-teman saya, tidak terbatas pada angkatan 2006, tentang acara ini baik via sms maupun ketemu langsung. Saya teringat mereka-mereka yang sering mengeluh tentang isu-isu pada tingkat jurusan: KKP, KKL, sistem pengajaran dsb. Saya berharap mereka akan datang dan menyampaikan uneg-uneg tersebut tapi waktu saya datang di acara, saya jadi berpikir mungkin saya terlalu banyak membuang waktu, energi, dan pulsa saya pada hal-hal yang sia-sia. Poinnya sama: mereka boleh saja koar-koar ga suka ini lah, ga suka itu lah, ininya ga jelas lah, itunya kok kayak gini lah, but mereka butuh action! Salah satunya dengan menyampaikan hal tersebut melalui acara yang difasilitasi EDSA ini. Kalo pun ga bisa datang, at least sampaikan uneg-uneg tersebut kepada pihak jurusan secara independen, tapi apakah mereka pernah melakukannya?

Saya jadi teringat seorang teman yang menyatakan kekecewaannya pada konsep KKP yang akan dia ikuti. Dengan sedikit memelas, dia bercerita tentang keluh-kesahnya pada program pengganti KKN tersebut. Saya yang saat itu tidak ingin terjebak oleh argumentun ad misericordiam menjawab, "Ya disampaikan saja to. Kalo ga disampaikan, bagaimana pihak jurusan bisa tahu?" Mendengar jawaban itu, dia menyahut,"Ah ga ah. Kamu aja, Pak." Waktu itu saya hanya tersenyum, lalu berkata,"Ya udah. Kalo ga mau, ya ga da yang bakal nyampein." Masalah tentang KKP ini mungkin bisa dibahas di note lain. Sedikit banyak saya mengikuti perkembangannya, mulai dari mendengarkan cerita-cerita dari senior sampai cerita-cerita dari beberapa teman yang berinisiatif mengadakan forum dengan pihak jurusan tapi ga jadi gara-gara kurang dukungan dari teman-teman seangkatan (bukan dalam arti mereka tidak setuju namun karena enggan bergabung untuk melaksanakan forum tersebut).

Kasus-kasus lain mencakup beberapa dosen yang opresif, yang sering memarahi (dan mempermalukan mahasiswa dengan ucapan-ucapan seperti, "Kamu semester berapa sih kok kayak gini ja ga bisa?), dosen yang seenaknya memberi tugas dadakan tanpa ada pemberitahuan di pertemuan sebelumnya dan kemudian nilai dari tugas tsb dijadikan nilai akhir yang mengakibatkan banyak mahasiswa yang kebetulan tidak datang di kelas jatuh nilainya, dan lain sebagainya. Saya tidak sedang mengkritik dosen-dosen tersebut, mungkin beliau-beliau punya alasan melakukan hal tersebut, namun saya lebih menekankan pada mahasiswa yang hanya diam melihat hal-hal yang menurut mereka tidak adil itu terjadi. Kalo menurut kalian itu ga adil, merugikan, dan perlu diperbaiki, ya disampaikan saja. Meminjam istilah Soe Hok Gie, dosen bukan dewa yang selalu benar, dan mahasiswa bukan kerbau. Da juga motto aktivis-aktivis,"If you don't take action, nothing happens. If you take action, a miracle happens".

Mungkin kepercayaan diri dan keberanian menyuarakan pendapat masih merupakan hal langka bagi mahasiswa di fakultas saya. Tengok saja tiap kali ada presentasi di kelas dan tiba waktunya untuk tanya jawab, berapa yang angkat tangan? Masalahnya, di fakultas tempat kita menimba ilmu tidak ada mata kuliah yang membahas hal-hal tersebut. Tidak ada mata kuliah yang mengajarkan bagaimana cara membangun kepercayaan diri dan bagaimana caranya bisa berani menyampaikan pendapat. Kalo ada teman-teman yang bilang saya berani menyuarakan aspirasi dan--menurut sebagian dari mereka--frontal mengkritik dosen dan birokrat, keberanian untuk melakukan hal tersebut saya dapatkan di organisasi-organisasi saya geluti sejak saya berseragam putih-biru. Saya juga yakin teman-teman saya yang aktivis, yang juga memiliki keberanian melakukan hal yang sama meski dalam level yang berbeda, mempelajari hal itu dari organisasi. Teman-teman yang meraih prestasi-prestasi hebat semacam mewakili UNDIP ke Harvard dan Danone's Trust juga rata-rata memiliki background organisasi yang bagus.Saya rasa lowongan beasiswa dan pekerjaan juga membutuhkan pengalaman organisasi dari para pelamarnya.

Memang beda kalo melihat aktivis-aktivis dan kutu buku. Yang satu biasanya fleksibel, tahan banting, dan berani, yang satunya lagi kena sedikit masalah saja bikin geger dunia, ato kalo ga kadang disuruh minta tanda tangan ke pihak dekanat ja ga tahu caranya dan ga berani. Karena pengalaman-pengalaman di organisasi menempa orang untuk menjadi pribadi-pribadi yang berani dan kuat dengan sering mengeluarkan mereka dari zona nyaman, rasa-rasanya perlu bagi kita untuk mengisi hari-hari kita lebih dari sekedar aktivitas yang hanya berkisar dari kos, kampus, dan kantin serta menyadarkan para kutu buku di fakultas kita yang aktivitasnya terfokus di 3 tempat tersebut (karena kenyataannya banyak kutu buku yang juga aktivis organisasi) akan pentingya berorganisasi untuk meraih masa depan yang lebih cerah.

PS: This note may be either explicitly or implicitly (or perhaps both) offensive to some readers. To those who feel offended by this note, my apology.